Suatu pagi, ketika dunia berjalan sebagaimana mestinya, di jalanan Jakarta pedagang-pedagang makanan dengan gerobak mereka, matahari perlahan meninggi, aku mendengar berita tentang salah satu hamba Allah yang perjalanannya di dunia ini sudah selesai. Yang kita bicarakan adalah bagaimana anak dan suaminya, bagaimana mereka menyambung hidup mereka.

Aku pun ingat sejenak ketika aku berjalan ulang setelah pemakaman ayahku sendiri. Tidak ada yang membicarakan kebaikan beliau kecuali sebatas "dia orang baik", "meninggalnya mudah". Kami, anak-anaknya rindu, tapi jarang-jarang berbicara tentang beliau. Hampir lima tahun berlalu, apa kabar jasadnya di bawah tanah tempat aku berdoa meminta ampunan baginya dan menangis merindukannya.

Dan ketika aku yang berada di bawah sana, tubuh yang ku jaga ini akan hancur lebur oleh waktu. Ketika aku hanya tinggal belulang, siapa yang datang mendoakanku.

Lalu apa sebenarnya dunia yang ku kejar itu? Ketika nafas terakhir berhembus, begitu juga dengan semua yang aku perjuangkan itu.

Kucari kunci bahagia di kitab suci, aku terenyuh ketika kutemukan kata itu hanya disandingkan dengan surga.

'Jangan-jangan kebahagiaan itu hanya tujuan semu yang dijual oleh sekularisme?'

Kita merasakan kebahagiaan itu ketika kita memiliki sesuatu. Keluargaku, karirku, hartaku, cintaku dan apa-apa yang sudah jadi milikku.

Dan ketika Allah mengambil itu kembali, rasa memiliki dari semua itu akan membuat hati ini berantakan. Padahal itulah hakikatnya dunia.

Lalu apa yang aku kejar-kejar di dunia ini?

Keluargaku? Kalau bukan mereka, maka aku yang akan meninggalkan mereka.

Karirku? Ketika ilmuku tidak lagi bersanding zaman, luluh lantak semua yang sudah aku perjuangkan.

Hartaku? Tidak ada gunanya di hadapan Allah di hari ketika hanya amalan yang ditimbang.

Cintaku? Akan pergi ketika sabar, maaf dan syukur tidak bisa dijalankan bersama.

Dan semua yang melekat padaku dicabut, siapa aku di hadapan Penciptaku? Apa yang aku bawa pulang?

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ ۝ لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ

Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.

QS. Al-Hadid: 22-23